23 September 2018

After Life - Post Power Syndrome

Siapa yang pernah mendengar tentang post power syndrome? Awalnya saya selalu menggunakan kata ini untuk menyindir Bapak saya yang pensiun di awal tahun 2018 dari perusahaan. Setiap kali beliau mulai bossy, atau bingung gak ada kerjaan, saya selalu mengeluarkan kata tersebut dengan nada mengejek. Siapa sangka saat ini, 7 bulan selanjutnya, sayapun merasakan hal yang sama dengan beliau?
Hal ini dimulai setelah 2 minggu masa liburan dan beres2 di Ann Arbor berakhir. Dengan mulai masuknya suami kuliah, maka saya mulailah bingung apa yang harus saya lakukan untuk mengisi waktu luang. Mulai dari nyuci baju, nyetrika, nyapu, ngepel, siap2 masak sudah saya lakukan dan ternyata saya masih mempunyai banyak waktu yang bisa saya gunakan. Dengan adanya unlimited internet, mulailah saya menonton drama korea, drama jepang, reality show, youtube, namun lama-lama saya mulai bosan juga dengan hal itu. Saya merasa TIDAK PRODUKTIF! Ditambah lagi dengan terus berjalannya insta story teman-teman kantor, teman kuliah dan sekolah yang memperlihatkan aktifitas kerjanya, membuat saya menjadi INSECURE.

The worst case? Saya uring-uringan, marah-marah gak jelas sama suami, gampang mengeluh, bahkan juga menangis tiba-tiba. Jujur suami saya heran dan merasa serba salah. Saat dia berusaha memberi solusi atau berpendapat, saya menganggap kata-katanya jahat dan tidak berperasaan. Mulailah drama ngambek dan muka cemberut. Sampai akhirnya saya sadar bahwa, siapapun tidak bisa merubah perasaan yang saya rasakan ini. Saya harus memperbaikinya sendiri. Mulai berfikir, dan yak, mari menulis di blog.

Bahwasanya mungkin ini memang saya sedang dibuat agar bisa meningkatkan kualitas diri dengan berbagai kegiatan yang sedari dulu ingin saya lakukan, atau hobi dan minat baru yang ingin saya pelajari, semua harus dimulai dari diri sendiri. Beberapa alternatif kegiatan yang bisa saya pikirkan adalah sebagai berikut :

1. Kerja 
Bisa dimulai dengan mengurus surat ijin kerja di US, saat ini semua persyaratan sudah saya lengkapi, tinggal dikirim saja. Harapannya bisa didapatkan dalam waktu 1 bulan sehingga saya bisa mlai bekerja. Saya sudah mencari beberapa lowongan kerja di Ann Arbor, untuk yang permanent, ada Key Account, Ecommerce, juga banyak lowongan kerja part time di retail, restoran, dan library universitas.

2. Mengambil online course
Ada banyak website yang ternyata memberikan banyak topik yang bisa saya pelajari. Situs seperti EDX, Coursera, Open2Study, dan masih banyak lagi yang bisa saya ambil mata kuliahnya untuk mengisi waktu luang. Saat ini saya sedang mengambil Entrepreneurship & Family Business, SEO, dan User Interface di website tersebut. 

3. Membaca buku
Sudah lama sekali sejak saya terkahir embaca buku. Jujur saja sejak bekerja saya jarang membaca buku. Rasanya susah sekali berkonsentrasi pada satu buku hingga selesai. Saya lebih suka menonton youtube untuk mendapatkan self development dan topik-topik menarik. Namun, saya sebenernya mengerti bahwa mendengar seseorang bicara di youtube tidaklah memberikan pemahaman yang sama dengan membaca sendiri sebuah buku. Sejak saya pergi ke perpustakaan kota yang lengkap, saya menjadi semakin semangat untuk kembali membaca buku. Saat ini saya sedang berusaha menyelesaikan Lean In by Sheryl Sandberg dan Nell Scovell. 

4. Update blog
Yup, saya sedang berusaha untuk menyisihkan waktu rutin mengisi blog saya yang lama terbengkalai ini. Saya ingin bercerita tentang kehidupan di Michigan, apa yang saya pikirkan, apa yang saya pelajari dari buku yang saya baca, juga mungkin review akan make up atau skincare yang saya gunakan. Intinya saya ingin memulai untuk menulis lagi, melepaskan isi pikiran dan juga belajar untuk kembali menulis.

5. Membuat content di Instagram
Saat ini saya punya dua account di instagram @zafirra dan @skincareza. Untuk account pertama, saya sedang berusaha untuk posting kehidupan saya di Michigan, sedangkan account kedua adalah review dan juga sharing saya tentang skincare yang saya gunakan. Bisa dibilang blog kecil. Namun, untuk pembahasan yang lebih panjang dan jelas, saya berencana menulisnya di blog ini

6. Yungki Edu Toys
Nah, yang terakhir adalah project terbesar dan sudah ditunda dari bertahun2 lamanya. Jadi mama saya punya usaha mainan edukasi, Yungki Edu Toys di Yogyakarta. Selama ini saya sudah berniat membantu namun tidak pernah kesampaian karena kerja di Danone. Otak saya tidak bisa melakukan keduanya secara bersamaan. Dengan resignnya saya saat ini, saya berencana untuk memulai mewujudkan keinginan lama tersebut dengan mulai berkecimpung di beberapa marketplace di Indonesia.

Yup, sekian dulu curhatan saya. Jujur memang dengan menulislah pikiran saya ini jadi bisa lebih tenang dan berfikir jernih. Rasanya setelah selesai ini saya jadi semakin semangat untuk bekerja dan improve diri sendiri lagi.

Siapa saja yang pernah kena PPS? Apa action yang kalian lakukan?

30 Agustus 2018

Cara buat Visa USA for J2 #NZinMichigan

Halo,, 

di post kali ini aku mau share sedikit tentang pengalaman aku apply visa US kemarin. Sebelumnya mau kasih tau status aku dan tujuan ke US nya. Jadi suami aku kebetulan dapat beasiswa untuk sekolah di University of Michigan, nah alhamdulillahnya aku ikut dong kan untuk nemenin pak suami. Jadi visa yang aku akan apply itu adalah visa J2, dependennya pemegang visa J1.

US itu punya berbagai macam visa. Ada Visa untuk turis, visa untuk kerja atau bisnis, juga ada visa untuk student. Visa pelajar juga ada macam-macam, ada visa B1, untuk yang short course, di mana bukan belajar untuk mengejar degree atau certificate academic. Selain itu yang umum juga ada visa J1 dan F1. Bedanya di mana? Bedanya kalo visa J1 itu yang sponsor untuk sekolah adalah pemerintah US atau pemerintah negara asalnya, sedangkan F1 itu lebih ke pribadi atau perusahan (beasiswa dari lembaga yang bukan pemerintahan). Masih ada beberapa perbedaan visa F1 dan J1, untuk informasi lebih lanjut bisa cek di sini

Intinya, suami saya dapat visa J1 karena dibiayai pemerintah, otomatis saya akan apply visa J2. Keuntungannya buat saya adalah visa J2 ini bisa dipake buat sekolah ataupun bekerja. Kalo visa F2 tidak boleh bekerja sama sekali. Yeay!!! Ini penting banget karena kalo gak, saya mau ngapain aja 1.5 tahun nemenin suami di sini? Bengong? Bisa mati kebosanan saya.

Lanjut yaaa.. jadi sebenernya semua hampir diurusin pak suami, saya tinggal terima beres. Tapi saya akan share sedikit ya yang saya lakukan untuk dapat visa ini. Jadi tahapannya sbb:

1. Tentukan jenis visa yang dibutuhkan
contoh, karena saya datang sebagai istri dari pelajar, maka saya apply visa J2. Jika belum tau butuh visa apa, bisa cek di Jenis Visa

2. Bayar biaya pembuatan Visa
Untuk visa J2, biaya pembuatannya adalah IDR 2.320.000, ini saya bayar tunai di CIMB Niaga. untuk informasi biaya lainnya bisa cek di Biaya Visa dan cara pembayarannya di Bayar Visa

3. Isi formulis DS-160
ini adalah formulir untuk non imigrant visa. Isinya online di halaman DS-160

4. Buat profil dan jadwal wawancara
Masuk ke link di samping ini Apply Visa US, lengkapi semua bagiannya dan buat jadwal wawancara kamu.

5. Wawancara
Datanglah ke kedutaan Amerika sesuai dengan jadwal wawancara kamu. Ingat, jangan terlambat ya. Saya pernah melihat ibu-ibu yang datang terlambat saat wawancara dan dia tidak boleh masuk, harus membuat jadwal wawancara ulang. Kemarin saya disuruh datang jam 9 pagi untuk wawancara, dan 30 menit sebelumnya sudah disuruh stanby di depan kedutaan. Di saat seperti ini datanglah lebih pagi, lebih baik menunggu daripada terlambat dan disuruh ulang lagi.

Alamat kedutaan amerika ada 2, di Jakarta dan Surabaya, alamatnya sbb: 

Jakarta
Jl Medan Merdeka Selatan no 3-5

Surabaya
Jl Citra Raya Niaga no 2

Nah, proses wawancaranya seperti apa sih?

Pertama saat saya sampai di kedutaan amerika, saya disuruh mengantri di depan. Ada satpam akan cek nama kita, apakah kita ada dalam daftar yang datang wawancara jam 9. Dia akan memegang daftar nama, kalo ada, nama kita akan dicoret, kemudian dia akan cek paspor kita untuk memastikan bahwa yang datang itu adalah yang akan wawancara. Handphone dan charger akan dipisahkan karena masuk kita gak boleh bawa handphone. Setelah itu, kita akan masuk ke kedutaan melewati sinar xray, barang bawaan akan di scan. Handphone dan charger akan dititipkan, kita dikasih nomor penitipan.

Setelah itu, kita akan masuk ke ruang tunggu pertama, bentuknya kayak stasiun bus dengan kursi-kursi. Ada petugas yang akan mengecek persyaratan yang dibutuhkan untuk pembuatan visa. Yang wajib dibawa adalah :

1. Paspor asli yang masih berlaku (saya juga bawa paspor yang sebelumnya, sebagai pertimbangan karena udah beberapa kali keluar negeri)
2. Bukti pembayaran bank (kalo J2 tidak perlu bayar SEVIS)
3. Halaman konfirmasi DS 160
4. Foto 1 lembar ukuran 5x5 cm (saya selalu bawa lebih, untuk jaga2)
5. Formulir I-20 (ini bukti diterima sekolah, punya suami)

Selain dokumen tersebut, bawa dokumen pendukung di bawah ini untuk kemudahan saat wawancara :
1. Kemampuan finansial (ini surat dari sponsor beasiswa bahwa akan memenuhi kebutuhan selama sekolah di US)
2. Dokumen akademik (saya kemarin bawa ijazah)
3. Dokumen hubungan dengan J1, karena saya suami istri maka kemarin saya bawa buku nikah
4. Saya juga bawa paspor suami yang sudah ada visa amerika nya, jadi mempermudah kita bahwa punya suami saja sudah disetujui.

Biasanya yang dicek yang wajib itu saja, setelah dicek, kita akan dikasih nomor tunggu, menunggu untuk dipanggil. Panggilan pertama adalah panggilan untuk kelengkapan dokumen. Di sini kita akan menyerahkan dokumen wajib. Ini lebih ke klarifikasi bahwa persyaratan kita sudah lengkap semua. Setelah lengkap, kita disuruh tunggu lagi, sebelum masuk ke ruang tunggu kedua.

Selang beberapa menit, ada panggilan untuk masuk ke ruang tunggu dua. Di sini kita akan dipanggil untuk merekam sidik jari, prosesnya tidak lama, namun memang antri karena banyak sekali yang daftar visa US ini. Setelah rekam sidik jari, barulah kita menunggu dipanggil ke loket wawancara. Bentuknya terbuka, kayak loket tiket gitu. Dan wawancara dilakukan dengan mikrofon, sehingga orang yang sedang menunggu bisa mendengar pertanyaan yang diajukan.

Proses menunggu wawancara ini cukup lama, saya nomor 117, dan di loket wawancara baru nomor 79. Sebaiknya anda membawa bacaan untuk membunuh waktu, karena tidak ada handphone, saya lumayan keki juga bingung mau ngapain. Di saat seperti ini saya baru sadar bahwa saya sudah sangat ketergantungan dengan handphone, jadi bingung mau ngapain saat gak ada handphone. 

Saya sayup-sayup mendengar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan wawancara tersebut, biasanya yang lama itu kalo kita tidak dapat menjawab pertanyaan dengan tegas. Iya, saya tau mungkin kita bisa nervous, tapi itu juga membuat seakan-akan kita berbohong. Gak perlu khawatir, yang wawancara kita bisa bahasa Indonesia kok, kalo kemarin sih pas saya dia pake bahasa Inggris, tapi ada juga beberapa orang yang diwawancara pake bahasa Indonesia.

Nah, disetujui atau tidaknya visa kita itu sudah dapat diketahui saat selesai wawancara. Warna kertas yang kita terima itu adalah hasil dari wawancara, Putih (visa kita disetujui), Hijau (diminta datang lagi untuk memberikan informasi tambahan), Kuning (ada proses administrasi tambahan yang harus dilakukan), Merah Muda (belum memenuhi syarat), dan Biru (pengisian aplikasi tidak lengkap, harus kembali lagi dengan aplikasi yang lebih lengkap)

Saya melihat beberapa orang yang selesai wawancara dengan berbagai warna di tangannya. Ada yang biru, merah muda, kuning, putih. Wah, itu bikin saya tambah nervous dan panik. Saat nomor saya dipanggil, saya sudah siap-siap untuk menjawab pertanyaan. Berikut pertanyaan yang diajukan ke saya

" So, you are gonna accompany your husband?"
" Yeah,"
" How long have you've been married?"
" Eehhmm,, 4 days. hehe"
" Really, oh Congratulation!!"
" Thank You"

" Your husband just made the visa 2 weeks ago, right?"
" Yeah, for me, we need to married first, so I just apply visa right now"
" Right, Do you have your husband visa? Is it approved yet?"
" Yeah I have it, I bring it now" (give him my husband's passport and visa)

"Ok, (typing....) Here you are (give the white paper), Congrats!"
" Thank You"

Gitu doang....
udah..
dapat kertas putih...
gak nyampe 5 menit..


Alhamdulillah bangettttt... 
Sebenernya sama sekali gak nyangka akan dipermudah sama Allah. Alhamdulillah banget semua itu berjalan seijinnya. Gak pake drama langsung dikasih. Bersuyukur banget, tapi juga agak kesel karena udah latihan wawancara dari semalam gak ada yang keluar. Haha..

Jam 10, saya sudah selesai wawancara. Paspor dan visa akan dikirimkan ke alamat yang kita tulis di waktu pendaftaran wawancara visa. Jadi Insya Allah aman dan nyaman. Beneran lo, dalam waktu 2 hari paspor dan visa sudah diterima. 

Intinya menurut saya, asalkan jelas tujuannya dan dokumennya lengkap, pengurusan visa ke US tidaklah susah. Insya Allah mudah. Dan ini harus dilakukan sendiri, gak ada calo-calo. Syaratnya jelas, prosesnya pun gak ribet. Cuma memang antrinya aja yang agak lama, jadi sebaiknya bawa buku untuk membunuh waktu. Jadi gak takut kan untuk apply visa ke US sendiri?

Welcome to United States #NZinMichigan

Sebagai orang yang lumayan punya rencana dalam hidup, kedatangan pria satu ini lumayan bikin hidup saya berubah arahnya. Tiba-tiba saat saya menulis ini, saya sedang berada di Ann Arbor, Michigan, US. I don’t know how life turns out.

Karena saya anaknya random, make saya berfikir untuk kembali mengaktifkan blog ini agar ada manfaatnya. Setelah lama sekali tidak post apapun. Sebenernya banyak banget kejadian yang bisa diceritakan, tapi mungkin pada post kali ini saya akan sedikit personal ya tentang kepindahan baru ini.

Jadi, tanggal 26 Agustus kemarin jam 6.15 pagi saya dan pak suami meninggalkan Indonesia tercinta. Tujuannya adalah United States, ceritanya saya nemenin suami untuk sekolah di University of Michigan. Perjalanan ke US itu ternyata panjang, 25 jam totalnya. Untuk kali ini saya dua kali transit di Narita, dan Chicago sebelum akhirnya sampai di Detroit.

Kurang lebih perjalanan saya kemarin seperti ini:
Jakarta > Narita : 7.5 jam perjalanan, waktu transit 2 jam
Narita > Chicago : 12 jam perjalanan, transit 2 jam
Chicago > Detroit : 1 jam perjalanan

Yang buat saya deg-degan itu sebenernya ketika di Chicago, karena kami harus melalui imigrasi, ambil bagasi, kemudian memasukkan bagasi lagi sebelum ke penerbangan selanjutnya. Kenapa deg-degan? karena biasanya kan proses di imigrasi itu lama, belum lagi sebelum berangkat saya kena banyak omongan dan wanti2 kalo saya bisa kena random check. Mengingat saya dari Indonesia dan menggunakan jilbab. Tapi alhamdulillahnya, saya bersyukur sekali ternyata ketakutan saya waktu itu tidak beralasan.

Entah mengapa saya merasa ini semua dimudahkan oleh Allah, mulai dari proses pembuatan visa (saya akan post mengenai ini di postingan selanjutnya), hingga wawancara imigrasi US. Pada saat di imigrasi, mereka tidak bertanya apapun, saya dan suami malah dikira kakak beradik, (apakah kami ini terlihat mirip? mungkin bagi orang US, semua orang asia terlihat mirip) setelah itu langsung disuruh memasukkan sidik jari dan pengambilan foto.

Pada saat memasuki imigrasi ini, jalur untuk visa sekolah dan visa kerja itu dibedakan dari jalur lainnya, sehingga bisa lebih cepat. Setelah melewati imigrasi, kami segera mengambil koper kami, dan melewati declaration. Nah, waktu itu saya agak panik, karena harus buru-buru check in lagi kan untuk penerbangan selanjutnya. Di pikiran saya, antri untuk masukin bagasi pada saat check in pasti akan ribet. Ternyata, oh ternyata, di sini itu setelah keluar dari terminal international, jika kita akan melanjutkan penerbangan gak perlu repot bawa bagasi lagi. Nanti setelah keluar dari terminal akan ada tim pekerja yang akan scan bagasi kita, dan dimasukkan ke dalam conveyor belt untuk segera dimasukkan ke pesawat tujuan. Canggih kan? Jadi kita tidak perlu bawa-bawa koper lari-lari ke terminal selanjutnya. Kebayang kan ribetnya kayak gimana kalo harus check in lagi.

Penerbangan kami selanjutnya adalah penerbangan domestik, jadi kami pindah ke terminal 2 naik kereta bandara. Setelah itu langsung check in. Nah, di USA ini ada badan yang intinya bertanggung jawab akan keamanan dalam transportasi, namanya TSA (Transportation Security Administration), jadi mereka yang akan scanning kita saat mau check in. Nah, lagi-lagi saya beruntung, karena bisa lolos tanpa masalah. Awalnya udah khawatir akan kena random check, ternyata yang kena malah bapak-bapak bule di depan saya. Jadi caranya, pas lagi lewat scan gtu, ada tulisan random check. Artinya siapapun yang lewat situ, harus mau diperiksa lebih lanjut. Jadi dipilihnya secara acak gtu, bukan karena seseorang pake jilbab misalnya. Alhamdulillah ya

Nah, agak random nih, mau bahas soal TSA dan koper

Jadi sebelum saya berangkat ini, saya berniat mau beli koper dengan teman saya, Dhea Laras. Waktu itu dalam pikiran saya, koper yang penting lucu, gede, muat banyak. Udah gtu aja. Tapi, sama Dhea saya diajarin cara milih koper yang tepat. Maklum, dia udah pernah sekolah di UK, jadi ada pengalaman. Koper versi Dhea yang bagus adalah

1. Sesuai besarnya 
(ini tergantung naik airlines apa), karena peraturan bagasi tiap airlines beda-beda. Saya naik ANA, jadi maksimal berat 1 koper itu 23 kg. Carilah koper yang tidak terlalu besar. Kemarin jadinya saya beli 28" dan itu gak perlu penuh udah 23 kg. haha..

2. Ringan,
Karena ada maksimum berat, maka pilihlah koper yang ringan. Kalo kopernya udah berat, maka isi barang kita cuma bisa jadi sedikit

3. Bannya four wheel
Kata Dhea, ini penting banget, terutama karena kita kan bawa koper sendiri, kalo four wheel gini, bawanya lebih gampang gak terlalu berat

4. TSA lock available
Nah ini yang nyambung sama bahasan TSA di atas. Jadi, kalo teman-teman perhatikan, saat ini di hampir semua koper itu ada TSA lock. Ini fungsinya buat apa sih? Jadi, TSA ini berguna saat kita masuk sebuah negara dan dia melakukan random checking terhadap bagasi kita. Jika kita menggunakan koper TSA lock, mereka bisa membuka koper kita melalui TSA lock tersebut. Tetapi jika tidak ada TSA locknya, mereka bisa membuka koper secara paksa.

Untuk daerah UK dan Eropa, jika mereka akan membuka koper, mereka wajib meminta ijin dan melakukan checking di hadapan pemiliknya. Jadi kalo gak TSA lock, sang pemilik bisa buka kopernya. Nah, beda dengan USA, di USA petugas dapat membuka koper tanpa harus ijin dengan pemiliknya, jadi kalo koper kita TSA lock, kita aman, dia bisa buka. Tapi kalo gak ada TSA lock nya, petugas US dapat merobek koper kita untuk mengecek isinya, dan itu gak akan diperbaiki. Kan parah ya. Makanya kata Dhea pilih koper harus ada TSA lock nya

Dan ini terbukti benar adanya...
jadi setelah saya sampai di hotel, dan membuka koper saya, saya menemukan sebuah kertas yang bertuliskan notice of baggage inspection, gambarnya kayak gini nih.



pada saat itu saya bersyukur kopernya TSA, kalo gak? udah hancur mungkin koper saya dirobek untuk dilihat isinya. Dari 3 koper yang kami bagasikan, hanya koper saya yang dibuka. Mungkin mereka heran kali ya, melihat isi bagasi yang penuh dengan bumbu instan dan sambal. Haha.. Maklum, dari Indonesia yang dibawa ya cuma bumbu dan makanan saja. Untungnya tidak ada yang diambil.

Yak, jadi sekian dulu postingan pertama saya tentang US. Semoga bisa istiqomah ya cerita-cerita tentang kehidupan di sini. Karena biasanya saya aktif nge blog lagi pas tinggal di luar negeri gini nih. (lihat postingan blog waktu di Jepang, wkwk..)

Ciao...

28 Januari 2018

Saving for Travel : Milenials Way

Sebagai orang sales, saat ini saya merasa jualan lagi susah banget. Even setelah event puasa dan lebaran, yang biasanya adalah saat belanja orang Indonesia, jualan gak terlalu bagus seperti yang diharapkan. Dan itu gak cuma kejadian buat produk susu aja, tapi hampir semua kebutuhan sehari-hari seperti sabun, shampoo, dll. Sebagai salah satu konsumen, bisa dibilang saya sendiri memang cenderung mengurangi pengeluaran yang tidak penting.

Terlebih lagi jika melihat fenomena anak muda saat ini, kayaknya bagi milenial itu gaya konsumsi kita sudah berubah, tidak lagi bisa disamakan dengan yang dulu dulu. Anak-anak milenial itu savy banget sama teknologi dan social media. Apalagi sekarang identitas diri.juga bisa dilihat dari isi social medianya. Misalnya Instagram, path, yang pada akhirnya required people to "eksis" supaya gak dibilang ketinggalan jaman. Fitur location dan juga hastag foto orang pamer saat liburan itu akhirnya pun jadi konten wajib jika ingin dianggap keren bagi milenial, akhirnya berbagai cara pun dilakukan supaya tetap eksis jalan-jalan nambah konten instagram.

Bagi sayapun, hal itu menjadi sebuah kebutuhan. Oleh karena itu saya mulai mengurangi pengeluaran-pengeluaran tidak penting dan menjadi semakin selektif dalam membeli barang. Dengan mengurangi pembelian, maka jumlah uang yang dapat ditabung akan menjadi lebih banyak. Artinya saya bisa jalan-jalan lebih sering juga.

Di tahun 2017 ini, saya berkesempatan untuk menjelajahi beberapa tempat yang belum pernah saya datangi :

1. Bira Beach, Bulukumba, Sulawesi Selatan

2. Danau Kelimutu, Ende, NTT
3. Labuan Bajo, Flores, NTT

Saya rasa, bahwa jalan-jalan bukan lagi dilihat sebagai kebutuhan tresier, namun saat ini menjadi kebutuhan sekunder. Dimana tiap bulan atau tiap tahun, kita menyimpan uang untuk jalan-jalan melihat ciptaan Allah yang Maha besar.

Yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa kebutuhan akan jalan-jalan ini harus diakomodir dengan jalan yang benar juga. Jangan sampai demi bisa eksis, maka dipaksakan jalan-jalan sampai harus ngutang. Sebaiknya uang jalan-jalan itu digunakan dari tabungan. Buatlah satu account tabungan yang khusus untuk jalan-jalan, dengan begitu, setiap bulan kita akan semakin semangat untuk menyisihkan sebagian dari uang kita untuk mewujudkan keinginan itu.

Trend di luar negeri sana, orang living on a backpack mode, atau nomaden, berpindah ke area yang lebih kecil, hidup sederhana untuk jalan-jalan. Backpack around the world. Menurut saya itu adalah sebuah keputusan yang berani. Atau, biasanya anak-anak SMA di Eropa, setelah lulus akan backpacking ke asia selama beberapa minggu atau bulan sebelum mereka memutuskan memasuki dunia kerja. Saya rasa, itu adalah hal yang baik, karena itu membuat kita semangat dalam bekerja.

Jujur, saya pun bekerja untuk bisa jalan-jalan. Karena hal itu adalah sebuah refreshment ketika kita melihat dunia yang berbeda dari keseharian, mencoba makanan dan minuman baru, belajar kebudayaan baru. Pada saat itulah, biasanya kita akan mensyukuri akan nikmat yang selama ini biasa kita dapatkan, ataupun merasa kecil karena di luar sana kita bisa melihat kebesaran Allah dan ciptaannya.

Jadi, kemana kita pergi di tahun 2018?

08 Oktober 2017

Handkerchief - Classic Tissue

 
Ada yang pernah sadar gak sih sekarang betapa kita ketergantungan dengan tissue? Beberapa hari ini saya mulai memperhatikan ternyata banyak juga tissue yang saya pake di dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari makan, ke kamar mandi, atau ya cuma buat ambil-ambil snack gitu di kantor. Pasti saya ambil deh itu satu dua tissue. Bahkan terkadang saya memakai tissue hanya untuk bersih-bersih meja yang kurang penting.

Kalo itu semua ditotal-total, rasanya banyak juga ya yang saya habiskan. Padahal tissue itu kan terbuat dari pohon juga, which means, semakin banyak tissu yang kita gunakan, maka semakin banyak pohon yang ditebang. Waw... Padahal kemarin saya gembar gembor semangat mau reduce waste, ternyata dalam kehidupan kita sudah terbiasa untuk menggunakan produk sekali pakai dan langsung buang.

Oleh karena itu, kemarin saat lagi beli peralatan kerja di Muji, saya memutuskan untuk membeli sapu tangan. Harapan saya bahwa saputangan ini bisa digunakan sebagai pengganti tissue yang sehari-hari saya pakai. Mungkin tidak semua, tapi semoga ini bisa mengurangi. Terutama untuk penggunaan tissue habis dari kamar mandi, atau setelah wudhu. Biasanya setelah wudhu itu saya mengambil 2-3 lembar tissue untuk mengeringkan muka, tangan dan kaki. Nah, sekarang saya mau merubah kebiasaan itu dan menggantinya dengan sapu tangan.

Terkadang kita sering berfikir, apakah iya dengan perubahan-perubahan kecil ini bisa berkontribusi pada bumi? Memang ada efeknya?

Di saat seperti itu, mari kita berfikir sebaliknya. Jika setiap orang mulai melakukan perubahan kecil dan sederhana ini, maka secara jangka panjang dan masive pasti akan tercipta perubahan yang besar.